2018 yang Sebentar lagi Selesai

Udah bulan November aja.

Kalau throwback dari awal tahun ini, banyak juga kejadian yang remarkable.

Kena cacar lah di umur yang udah 20an, dapet tiket konser VIP gratis, ke luar kota beberapa kali karena kerja, ada temen sekantor yang resign, kenalan lagi sama orang-orang baru.. Hmmmm, banyak pokoknya.

Pelajaran paling penting tahun ini dapet banget sih. 

Pokoknya gue nggak mau memaksakan kehendak yang bukan dari keinginan diri sendiri. Capek. Dan ujung-ujungnya bisa kesal.

Kalau bisa ngulang waktu, sebenernya ada beberapa hal yang nggak mau gue lakukan. Niatnya baik sih, tapi praktiknya salah. 
Tapi karena udah terlanjur dan waktu nggak bisa diputar, jadi dibuat pelajaran aja. Nggak cuma buat gue doang. 
Gue akan have fun in professional life and personal life and (return to) following my plan without any particular interruption (again) (hopefully).
Gue akan semakin menanamkan kalimat ini ke diri sendiri, "Hmm, apa hal yang bisa-bisa menyesal kalau tidak gue lakukan sebelum mati?"
Ya, sesimple itu aja.

Trus, gue semakin harus bisa mengatur ekspektasi dan respon gue terhadap kelakuan orang lain. Gue orangnya gampang annoyed dan triggered sama orang yang kurang empati, nggak baca aturan dan nggak sadar kalau mereka egois. Atau, kalau dalam urusan kerjaan, jelas-jelas udah dengan majunya teknologi udah sangat mempermudah komunikasi, tapi malah nggak dipake alias diabaikan. Untuk hal sederhana dengan cek dokumen atau respon via WhatsApp aja. I think that's very stupid. 
Yang gue lakukan cuma bisa bersabar dan kalau udah parah ya lawan aja. No matter how old the person is.

Tentu, ada juga hal-hal baik yang gue sadarin dari tahun ini. Kenal sama orang-orang baru yang sepaham sama gue, dan kalau ngobrol tentang suatu topik nyambung. Dan bisa makin kenal serta makin deket juga sama orang yang tadinya cuma berhubungan dalam kadar weak links.

Paling seneng sih tentu saja makin keliatan sama keberadaan kawan-kawan yang mau mendengar. Not only hearing, but trully listening. Gak perlu respon banyak sih, cuma pada sadar aja ada pikiran-pikiran gue yang perlu ditampung. Baik hal yang berat kayak beberapa konflik di Indonesia maupun receh kayak masalah hari ini gue belum makan sayur.

Beberapa bulan terakhir pun gue belajar untuk training otak gue supaya lebih resilient. Lebih tangguh.

Sejak awal 2017 gak tau kenapa gue gampang sedih pas baca berita. Suka overwhelmed dan bahkan pernah sampai nangis. Yang paling gue inget misalnya berita berita penyekapan sekeluarga di kamar mandi sampai pada meninggal. Otak gue terlalu imajinatif sampai-sampai bisa membayangkan dengan detil gitu deh.

Tapi, sekarang lebih baik. Kalau udah terlalu overwhelmed, gue tinggal uninstall atau deactive beberapa social media aja dan banyakin jalan-jalan. Kalau butuh update informasi ya minimal gue bisa baca dari apps platform beritanya langsung atau klik websitenya langsung. Habis kerjaan gue menuntut untuk update dan gue juga anaknya seneng tau apa yang update sih. Sekarang gue udah gak terlalu bete atau depressed lagi pas ketemu berita yang sedih. I can handle it better now.

Gue pun sadar kalau fokus sama kehidupan sendiri dan secara random ngelihat atau coba hal baru, ketemu kok hal baik dan orang-orang baik yang nggak terekspos.

Sekarang, pas liat-liat berita dan bacaan menyebalkan pun -hoax, atau yang berhubungan dengan logical fallacy yeah- gue udah bisa merespon tanpa marah-marah dan bisa menertawakan aja. Mugkin emang orangnya nggak punya integritas atau mungkin ya emang orangnya tidak memahami karena tidak tahu dan tidak punya kesempatan untuk tahu. 

Gue paham namanya juga manusia punya background beda-beda dan namanya juga masyarakat global village maka bisa masuk arena battle of the worldview. Dan online disinhibition effect is real, and it happened to me as well. Makanya kemampuan mendengar dan kesabaran sangatlah penting. (Ngelantur gak sih paragraf ini?)

Yaa, dua bulan lagi 2018 selesai. Apa yang gue pengenin semakin hari semakin simple aja. Sekarang gue nggak punya big target dan mengikuti alur yang gue mau berdasarkan kesempatan yang ada aja. I used to have a specific target, but over the past two years, when something didn't happen as i want i get sad easily. Meanwhile, it's just a part of life cycle. 
Dan makin lama emang makin aneh aja kehidupan yang fana ini. 

Simple aja, ke depannya gue pengen belajar lebih baik di bidang yang gue suka, lebih disiplin dan resilient, growth better skill and mindset with a particular mentor, tetap berteman dan memperluas networking, tetap bisa bantu orang walau dikit dan tau kalau gue bisa bermanfaat walaupun gue bukan founder startup (?) 

Semoga 2018 bisa menjadi refleksi untukmu juga ya :)

Comments

Popular posts from this blog

A Glimpse of My Occupation

I'm drowning