Hal yang Paling Pasti dari Hidup
Setahun-dua tahunan belakangan ini, aku banyak bertanya-tanya tentang hidup. Mungkin namanya juga kesadaran jadi orang yang makin dewasa ya.
Yang pasti, dari banyak hal yang terjadi dan aku observasi, kematian adalah hal yang paling pasti.
Hehe semua orang juga tau kali ya.
Tapi, coba deh, pernah nggak kalau benar-benar memahami, to think about you're going to die someday, somehow in some way, and it really sinks in to your mind.
Kesadaranku tentang kematian mulai ada sejak kehilangan nenek. Nenek, yang biasanya juga tinggal bareng, serumah, meninggal bulan Agustus 2014.
Aku orang yang terakhir sama nenek.
Aku nganterin dia ke kamar mandi.
Nenek yang jalannya pelan, dan aku pegangin tangannya menuju kamar mandi.
Setelah itu, aku yang lagi duduk-duduk di ruang keluarga bingung.
Kok nenek nggak keluar-keluar ya... Aku sama mama yang baru turun pun curiga.
Ngetuk pintu kamar mandi nggak ada sahutan. Kita pun panik. Dan pas pintu kamar mandi di paksa buka ternyata nenek udah di lantai. Innalillahi...
Dokter terdekat pun dipanggil ke rumah dan nyoba pertolongan pertama lagi. Dan udah dicoba berapa kali pun, kata dokter nggak ada detak jantung lagi.
Aku nangis sambil bilang "bangun nek, bangun," dan guncang-guncang bahunya. But i know she will not wake up. Aku frustasi dan nangis. Nenek meninggal.
Aku anak satu-satunya dan di rumah sering bareng nenek. Dari kecil, sehabis pulang sekolah, ya pasti ada nenek di rumah.
Akhir-akhir ini paling inget kalau nenek suka ngupasin mangga. Sampai aku udah kuliah juga, nenek masih suka ngupasin mangga, sambil duduk di kursi goyangnya.
Dia kupas kulitnya, trus nyodorin ke aku yang udah dipotong. Aku tinggal ambil aja dan langsung makan.
Pas pulang sekolah atau dari kampus, nenek juga sering bukain pintu.
Setelah nenek meninggal, aneh banget rasanya. Nggak ada nenek yang buka kunci pintu atau nyodorin kunci dari jendela kamarnya yang deket pintu samping rumah.
Awal-awal kehilangan rasanya aneh. Ya, orangnya udah nggak ada.
Trus lama-lama sedih dan berandai-andai.
Coba aja aku lebih baik ke nenek, lebih sering dengerin nenek, lebih pahamin nenek kenapa seriiiing banget nasehatin ini-itu.
Berandai-andai....sampai sesak rasanya.
Tapi dari situlah aku sadar banget, semua makhluk hidup yang bernyawa emang akan kembali ke Penciptanya.
Semua yang ada di dunia ini bersifat sementara, nggak ada yang kekal. Begitu pun diriku dan orang-orang di sekitarku. Jadi, harus ikhlas.
Sejak saat itu, setiap nerima kabar ada saudara, sepupu atau tetangga yang meninggal dan dikuburkan, aku selalu mikir, "Suatu hari tubuhku deh yang akan ada di tanah gelap itu. Gimana rasanya ya? Jiwaku ke mana ya? Kalau dalam Islam kan nanti akan ditanya-tanyain dalam kubur itu"
Akhirnya aku pun penasaran, mati itu kayak gimana sih? Dan sampai juga aku baca orang yang sempat mati terus hidup lagi, alias mati suri. Aku bahkan sampai beli buku Glimpsing Heaven buat tau cerita orang-orang yang sempat mati sesaat.
Rela banget mesen di toko buku perpusat sampai nunggu sebulan datengnya, haha.
Karena udah memahami kematian sebagai hal yang pasti, aku merasa nggak takut mati. Yah, takut sakitnya sih. Sama takut juga kira-kira udah berguna sama orang-orang belum ya selama hidup. Tapi dari segala kejadian yang mengancam nyawa, aku kayaknya pasrah aja sama Allah SWT.
Misalnya, yang baru-baru ini terjadi waktu aku lagi tugas di Bali.
Aku lagi tidur, trus kasurnya goyang banget karena gempa. Teman sekamar pun kebangun.
Kasurnya masih terus goyang dan otakku mikir cepat
"OH, di Palu baru aja gempa dan tsunami, dan di Lombok juga habis gempa parah. Sekarang gempa"
"Kok masih goyang kasurnya, nggak berhenti-berhenti gempanya?"
"Oiya Pantai Kuta kan persis seberang hotel"
"Yaudah yaudah kalau makin parah gempanya aku berusaha menyelamatkan diri aja deh Ya Allah tapi kalau makin parah dan nggak selamat yaudah aku pasrahin aja,"
Iya begitu deh cara kerja otakku.
Tapi, Alhamdulillah akhirnya gempanya berhenti.
Trus aku lanjut tidur lagi, nggak ikut keluar kayak sebagian tamu hotel.
Aku juga paling pasrah pas udah naik pesawat. Ya nggak bisa berbuat apa-apa cuy kalau sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Cuma bisa pasrah dan berdoa.
Tahun 2016 pas di pesawat dari Turki ke Singapore, pesawatnya sempat naik turun yang bikin perut terasa geli-geli banget kayak di roller coaster.
Temen di sampingku udah banyak-banyak dzikir sambil cengkram tanganku. Dan setelah pesawatnya terbang stabil lagi, dia bilang,
"Kok lo kalem banget sih zi? Emang nggak takut?"
Mungkin muka aku flat juga ya.
Trus aku jawab, "Yha mau bisa apa. Nggak tau di mana, lagi terbang di mana, cuma bisa ikutin lo juga sih dzikir dalam hati,"
Pikiranku yang overthinking tentunya pas naik pesawat sempat punya skenario kalau (wallahualam) pesawatnya kenapa-kenapa, error gitu, rasanya gimana sih. Turun menukik gitu gimana. Tapi yaudah, aku sadar, bisa apalah aku di udara?? If death is coming, then let it come, but when it's not, yaudah let's live the life.
Tapi, dari pemikiranku, aku sadar, yang lebih sulit itu emang ditinggal orang yang disayang. Semuanya punya waktu masing-masing di dunia ini. Jadi, makin hari aku harus bisa makin respek sama waktu yang kupunya, dengan waktu yang kuhabiskan sama orang-orang di sekitarku.
Dan aku juga masih latihan, terus latihan biar bisa melakukan hal-hal yang nggak akan kusesali. Daaaan yang paling penting nih, nggak nyakitin orang!
Kadang suka ingat kesalahan sendiri, terus menyesal betapa bodohnya dan egoisnya diriku. Semakin nyadar deh kalau cuma manusia biasa yang sering salah.
Makanya ternyata penting banget kalau manusia itu harus saling memaafkan. Pada dasarnya manusia emang bisa bikin salah, kok. Dan aku jadi ngerti juga kenapa Tuhan itupun Maha Pengampun, karena yaa dia tau makhluknya sangatlah lemah dan gampang buat salah.
Oke, oke, itulah hal paling pasti dari hidup yang semakin sering tertanam diotakku. Tentang kematian juga sih yang sering bikin aku refleksi terkait "Apa sih yang kukejar?"
Tentang kematian juga yang bikin aku jadi lebih baik sama diri sendiri.
Semoga hidupku sampai menjelang kematian nanti banyak hal menyenangkan, bisa terus bermanfaat dengan apa yang kupunya, dan pastinya bisa dihabiskan sama orang-orang yang ku sayang dan sayang sama aku, hihi.
Mellow deeeh.
Yang pasti, dari banyak hal yang terjadi dan aku observasi, kematian adalah hal yang paling pasti.
Hehe semua orang juga tau kali ya.
Tapi, coba deh, pernah nggak kalau benar-benar memahami, to think about you're going to die someday, somehow in some way, and it really sinks in to your mind.
Kesadaranku tentang kematian mulai ada sejak kehilangan nenek. Nenek, yang biasanya juga tinggal bareng, serumah, meninggal bulan Agustus 2014.
Aku orang yang terakhir sama nenek.
Aku nganterin dia ke kamar mandi.
Nenek yang jalannya pelan, dan aku pegangin tangannya menuju kamar mandi.
Setelah itu, aku yang lagi duduk-duduk di ruang keluarga bingung.
Kok nenek nggak keluar-keluar ya... Aku sama mama yang baru turun pun curiga.
Ngetuk pintu kamar mandi nggak ada sahutan. Kita pun panik. Dan pas pintu kamar mandi di paksa buka ternyata nenek udah di lantai. Innalillahi...
Dokter terdekat pun dipanggil ke rumah dan nyoba pertolongan pertama lagi. Dan udah dicoba berapa kali pun, kata dokter nggak ada detak jantung lagi.
Aku nangis sambil bilang "bangun nek, bangun," dan guncang-guncang bahunya. But i know she will not wake up. Aku frustasi dan nangis. Nenek meninggal.
Aku anak satu-satunya dan di rumah sering bareng nenek. Dari kecil, sehabis pulang sekolah, ya pasti ada nenek di rumah.
Akhir-akhir ini paling inget kalau nenek suka ngupasin mangga. Sampai aku udah kuliah juga, nenek masih suka ngupasin mangga, sambil duduk di kursi goyangnya.
Dia kupas kulitnya, trus nyodorin ke aku yang udah dipotong. Aku tinggal ambil aja dan langsung makan.
Pas pulang sekolah atau dari kampus, nenek juga sering bukain pintu.
Setelah nenek meninggal, aneh banget rasanya. Nggak ada nenek yang buka kunci pintu atau nyodorin kunci dari jendela kamarnya yang deket pintu samping rumah.
Awal-awal kehilangan rasanya aneh. Ya, orangnya udah nggak ada.
Trus lama-lama sedih dan berandai-andai.
Coba aja aku lebih baik ke nenek, lebih sering dengerin nenek, lebih pahamin nenek kenapa seriiiing banget nasehatin ini-itu.
Berandai-andai....sampai sesak rasanya.
Tapi dari situlah aku sadar banget, semua makhluk hidup yang bernyawa emang akan kembali ke Penciptanya.
Semua yang ada di dunia ini bersifat sementara, nggak ada yang kekal. Begitu pun diriku dan orang-orang di sekitarku. Jadi, harus ikhlas.
Sejak saat itu, setiap nerima kabar ada saudara, sepupu atau tetangga yang meninggal dan dikuburkan, aku selalu mikir, "Suatu hari tubuhku deh yang akan ada di tanah gelap itu. Gimana rasanya ya? Jiwaku ke mana ya? Kalau dalam Islam kan nanti akan ditanya-tanyain dalam kubur itu"
Akhirnya aku pun penasaran, mati itu kayak gimana sih? Dan sampai juga aku baca orang yang sempat mati terus hidup lagi, alias mati suri. Aku bahkan sampai beli buku Glimpsing Heaven buat tau cerita orang-orang yang sempat mati sesaat.
Rela banget mesen di toko buku perpusat sampai nunggu sebulan datengnya, haha.
Karena udah memahami kematian sebagai hal yang pasti, aku merasa nggak takut mati. Yah, takut sakitnya sih. Sama takut juga kira-kira udah berguna sama orang-orang belum ya selama hidup. Tapi dari segala kejadian yang mengancam nyawa, aku kayaknya pasrah aja sama Allah SWT.
Misalnya, yang baru-baru ini terjadi waktu aku lagi tugas di Bali.
Aku lagi tidur, trus kasurnya goyang banget karena gempa. Teman sekamar pun kebangun.
Kasurnya masih terus goyang dan otakku mikir cepat
"OH, di Palu baru aja gempa dan tsunami, dan di Lombok juga habis gempa parah. Sekarang gempa"
"Kok masih goyang kasurnya, nggak berhenti-berhenti gempanya?"
"Oiya Pantai Kuta kan persis seberang hotel"
"Yaudah yaudah kalau makin parah gempanya aku berusaha menyelamatkan diri aja deh Ya Allah tapi kalau makin parah dan nggak selamat yaudah aku pasrahin aja,"
Iya begitu deh cara kerja otakku.
Tapi, Alhamdulillah akhirnya gempanya berhenti.
Trus aku lanjut tidur lagi, nggak ikut keluar kayak sebagian tamu hotel.
Aku juga paling pasrah pas udah naik pesawat. Ya nggak bisa berbuat apa-apa cuy kalau sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Cuma bisa pasrah dan berdoa.
Tahun 2016 pas di pesawat dari Turki ke Singapore, pesawatnya sempat naik turun yang bikin perut terasa geli-geli banget kayak di roller coaster.
Temen di sampingku udah banyak-banyak dzikir sambil cengkram tanganku. Dan setelah pesawatnya terbang stabil lagi, dia bilang,
"Kok lo kalem banget sih zi? Emang nggak takut?"
Mungkin muka aku flat juga ya.
Trus aku jawab, "Yha mau bisa apa. Nggak tau di mana, lagi terbang di mana, cuma bisa ikutin lo juga sih dzikir dalam hati,"
Pikiranku yang overthinking tentunya pas naik pesawat sempat punya skenario kalau (wallahualam) pesawatnya kenapa-kenapa, error gitu, rasanya gimana sih. Turun menukik gitu gimana. Tapi yaudah, aku sadar, bisa apalah aku di udara?? If death is coming, then let it come, but when it's not, yaudah let's live the life.
Tapi, dari pemikiranku, aku sadar, yang lebih sulit itu emang ditinggal orang yang disayang. Semuanya punya waktu masing-masing di dunia ini. Jadi, makin hari aku harus bisa makin respek sama waktu yang kupunya, dengan waktu yang kuhabiskan sama orang-orang di sekitarku.
Dan aku juga masih latihan, terus latihan biar bisa melakukan hal-hal yang nggak akan kusesali. Daaaan yang paling penting nih, nggak nyakitin orang!
Kadang suka ingat kesalahan sendiri, terus menyesal betapa bodohnya dan egoisnya diriku. Semakin nyadar deh kalau cuma manusia biasa yang sering salah.
Makanya ternyata penting banget kalau manusia itu harus saling memaafkan. Pada dasarnya manusia emang bisa bikin salah, kok. Dan aku jadi ngerti juga kenapa Tuhan itupun Maha Pengampun, karena yaa dia tau makhluknya sangatlah lemah dan gampang buat salah.
Oke, oke, itulah hal paling pasti dari hidup yang semakin sering tertanam diotakku. Tentang kematian juga sih yang sering bikin aku refleksi terkait "Apa sih yang kukejar?"
Tentang kematian juga yang bikin aku jadi lebih baik sama diri sendiri.
Semoga hidupku sampai menjelang kematian nanti banyak hal menyenangkan, bisa terus bermanfaat dengan apa yang kupunya, dan pastinya bisa dihabiskan sama orang-orang yang ku sayang dan sayang sama aku, hihi.
Mellow deeeh.
Comments
Post a Comment