Katanya hujan membawa rezeki. Namun, rasanya tidak bagi orang yang hendak melangkahkan kaki masuk kereta, tapi kedua pintunya terlanjur tertutup. Pukul enam, hujan cukup deras, dan ada yang terlambat sepersekian detik naik kereta arah Tanah Abang yang datangnya tak sesering kereta jalur Jakarta Kota. Pagi ini, banyak motor di depan stasiun berkerumun. Terlihat penumpang-penumpang yang turun dari ojol , melepas jas hujan plastik, dan segera berlari ke arah stasiun. Bunyi dari palang pintu kereta pun cukup bikin deg-deg-an bagi mereka yang masih berjalan, belum mencapai gerbang stasiun. Sementara itu, seorang ibu berpakaian batik yang tadinya berjalan cepat, harus agak berlari-lari sambil memegang payung berlogo salah satu BUMN perusahaan minyak (kebanggaan Indonesia). "Duh, kereta saya bukan ya," mungkin itu dalam hatinya. Ibu itu pun menyebrang ke stasiun mendahului saya. Sebelum naik dua anak tangga di pagar stasiun, cipratan akibat becekan kecil datang dari langkah...