A Glimpse of My Occupation
You can google my name....
Nggak, deng! Nggak semuanya terlihat dari google. Itu hanyalah yang ada di permukaan saudara-saudara.
Tulisan ini untuk yang suka bertanya-tanya:
"Kerjaan lo apaan sih kok sering jalan-jalan?"
"Oh di (nama media) ya.. Wartawan ya?" <--- BUKAN
"Content marketing ngapain tuh?"
"Kok masuknya siang???" <--- yang nanya antara terlalu bersemangat dan protes.
Saya kerja di tim content marketing di sebuah online publishing/media online. Sebentar lagi akan bergeser ke grup agensi-medianya sih. Tim ini beserta deskripsi pekerjaannya udah masuk ranah periklanan. Tugasnya membuat konten-konten yang bisa menjual produk/jasa/kampanye brand atau klien dengan konsep soft-selling. Nah, konten itu bisa berupa artikel, video, infografis, atau multimedia konten di kanal premium. Lalu, bisa di publikasikan di media ini atau owned media si klien, dan bisa juga kalau big project di publikasikan di banyak media (biasanya sih video)
Job desknya agak berbeda dengan copywriting di media ini, di mana kami nggak terlalu "keras" menyodorkan audiens tentang harga produk atau merepetisi penyebutan produk.
Misalnya nih:
Klien: Produk breast pumping dari Brand A
Target market: New mom, millenial, SES A
Nah, yang akan kukerjakan adalah bagaimana membuat target market ini menyadari pentingnya si breast pumping Brand A tanpa harus bilang harga produk, atau produk ini paling bagus, terbaik, blablabla. Bahkan bisa juge tapa nyebutin produknya.
Selanjutnya, setelah dapat brief, di tahap awal akupun mikir, berkhayal, dan riset.
Serius.
Sesekali juga pakai wawancara. Tapi narasumbernya berdasarkan arahan klien ya, karena ini kan produk berbayar. Subjektif, tapi berdasarkan fakta juga gitu.
Jadi, akhirnya yang aku buat misalnya tentang pentingnya persiapan pada 1.000 hari pertama anak. Aku mulai dari jelasin perkembangan otak anak yang pesat di masa itu, apa aja yang si anak butuhkan, terus bagaimana persiapan ibu, bahas ASI, dan jengjengjengjeng aku ngaitin brand breast pumping-nya deh.
Contoh lainnya yang pernah aku buat dan aku suka banget adalah ngebahas Met Gala yang dikaitin dengan kampanye sosial sebuah e-commerce di bulan Ramadhan untuk ngajak penggunanya nyumbang pakaian yang tidak terpakai. Pokoknya bisa aja deh kusambungin storytellingnya, hehe.
Garis besarnya sih itu. Berikut kujabarin apa yang menarik dari pekerjaan yang udah ditekuni sejak lulus selama lebih dari satu tahun ini:
Yang aku suka:
- Terus berpikir kreatif.
Senang banget aku jadi harus bisa mikir terus, nyari ide, berimajinasi, dan bikin cerita yang tepat. I know one of my strength is in storytelling. Terlebih lagi, aku juga suka kalau bisa lebih banyak tahu masalah apa yang dimiliki target audience sehingga ideku bisa berpartisipasi menyelesaikan masalahnya itu.
- Semakin banyak tahu berbagai industri.
Bekerja di media yang besar membuat cukup banyak brand dari berbagai industri menjadi klien. Ada dari FMCG (Fast Moving Consumer Goods), Tekno (Smartphone, laptop, etc), Kesehatan (suplemen, vitamin, Rumah Sakit, etc), Home Appliances (lemari es, tv, etc), Otomotif (dari mobil sampai olinya), Pendidikan (universitas sampai lembaga penyedia beasiswa), Travel (Tourism borad negara lain), pemerintahan dan banyak lagi.
Karena konten yang kubuat perlu banyak riset, aku jadi bisa dig a little bit deeper tentang kandungan produk atau bagaimana industri itu bekerja.
Misalnya nih, aku jadi cukup ngerti sebegitu krusialnya perkembangan otak anak di 1.000 hari pertama kehidupannya. Aku jadi paham kenapa ada bayi yang nggak berhenti-berhenti makan, dan banyak orangtua yang anggap itu hal oke. Padahal itu karena ada saraf si bayi yang belum bisa aktif untuk merasakan kenyang. Akhirnya diasup terus makannya.
Kejadian nih, aku ngeliat sendiri di saudara yang udah punya anak. Anaknya lagi disuapin pisang dan sepupuku ini bilang kalau makannya sering nggak mau berhenti. Baru aku mau bilang terkait saraf itu, eh tau-tau.....anaknya muntah.
Tuh kan. Jadi si bayi ini belum bisa mendeteksi kadar kenyangnya dan orangtua yang harus bisa ngatur porsinya.
Mari lihat industri lain. Waktu brand-nya lemari es, aku jadi tahu tentang pentingnya kebersihan kulkas sama cara menyimpan makanan dengan tepat. Salah satunya ikan salmon.
Kadang sampai agak mabok rasanya karena yang kuserap dari beragam industri. But, all is well. Bisa dikatakan aku pun jadi makin generalis hahaha. Take a little bit of everything.
- Semakin tahu cara kerja periklanan dan bisnis.
Yang paling kuingat sih betapa besarnya biaya yang dikeluarkan untuk advertising dan marketing. Harga Rp 40 juta untuk pemotretan yang hasilnya akan dipajang itu biasa.
Setiap di Stasiunn Sudirman yang banyak reklame iklan, otakku jadi suka mikir "Wih bagus ya headlinenya", "Ini total foto sama editingnya berapa ya," atau saat lihat TVC dan video commercial di Youtube yang bagus ceritanya, shot gambarnya, dan editingnya, kadang suka otomatis berpikir "Ini pasti harganya di atas Rp 100 juta!"
Kalau kliennya pelit, mau murah dan cepat dengan hasil bagus (padahal feedback dari dianya lama), udah kelihatan deh hasil akhirnya kurang maksimal. Pernah kejadian.
- Ternyata masih bisa jalan-jalan
Kirain pindah dari ranah jurnalisme ke periklanan membuat diri ini akan jarang banget jalan-jalan. Eh ternyata nggak juga, deng! Kalau ada kebutuhan klien yang ada campaign di luar kota tau peluncuran produk, yaa aku atau teman yang di content marketing bisa dikirim, deh.
Nggak nyangka tahun ini bisa ke Sumbawa Barat dan Lombok karena urusan kerja. So happy~
Yang aku nggak suka
- Klien rese dan labil lah. Apalagi.
Ganti topik cerita masih nggak masalah, karena konten akhirnya kan belum jadi. Tapi, kalau dia minta ubah cerita padahal temanya udah dia sendiri yang pilih, kan berat di hayati :(
Ya jangan sampai aja ya kalau bentuknya video trus kliennya bilang "Itu wajah pemerannya bisa diedit nggak?"
*Mungkin bisa kalau pakai kun faya kun Allah SWT*
*padahal dia yang udah pilih aktornya*
Atau kejadian lainnya adalah, untuk artikel yang baru tayang sehari trus kliennya ngebet minta langsung 10 juta pageviews.
*EEEEE ini memang media gede tapi jangan seenaknya ya kamu, Ferguso!*
*Bosku bahkan sampan berkata kasar* hahaha
- Kalau kliennya dari pemerintahan.....
Jujur aku agak males. Kalau yang dijual campaign dari kebijakannya sih oke ya, tapi aku nggak suka kalau mesti ngolah rilis-nya gitu.... Karena untuk image banget dan hasilnya mirip "berita". Istilahnya semacam media buying, deh. Mungkin bawaan aku juga yang sebelumnya kuliah di Komunikasi dan peminatan jurnalisme. Tapi, apa boleh buat, namanya juga tugas ya jadi aku pernah ngerjain ini.
Trus aku jadi ngeliat nih bedanya klien commercial dan klien pemerintahan, Kalau klien commercial karena base-nya business, mereka lebih paham perlunya apa, mau ke siapa (target audience/target market) berjualannya, pesan jelas yang disampaikan apa. Tapi, kalau klien pemerintahan beberapa kali aku ngerasa kayaknya kurang nendang deh campaignnya kalau cuma andalin media ini. Kadang aku ngerasa pesan campaign alias "gerakan"nya itu terlalu banyak dan nggak mudah untuk dicerna dalam sekali lihat. Yang namanya pesan, apalagi untuk iklan, sebaiknya satu aja dan ringkas biar bisa fokus menyampaikannya. Selain itu, pernah juga punya target audiencenya yang kurang spesifik karena mengandalkan besarnya pengunjung media ini aja.
Yang paling menantang
Beragam topik, banyak industri, tenta sajaaaa ada topik yang cukup sulit buatku. Dulu, aku nggak banyak paham terkait kebutuhan ibu hamil dan consumer goods, tapi sekarang kalau ini udah cincay lah.
Ada dua nih yang masih agak sulit buatku. Dunia games dan industri alat kesehatan. Mungkin karena aku nggak suka games kali ya dan jarang banget liat updatenya. Solusinya sih selain banyak riset ya banyak nanya-nanya juga ke teman yang lebih ngerti. Nah, kalau di industri alat kesehatan, baru banget dapat kliennya beberapa minggu lalu. Wagelaseeeeh, dapet ilmu baru juga dan ternyata rumit banget sistem impor atau produksi alat-alat kesehatan di Indonesia.
Daily life
- Kerja di kantor
- Meeting di luar kantor
Pernah meeting di Starbucks Salah satu mall di Senayan. Nah, di mall itu ada TIGA Starbucks dan temenku salah ngasih tau terus Starbucks yang mana. Aku pun sampan pindah-pindah di antara tiga Starbucks itu -_-
- Mendadak ke luar kota
Bahkan aku pernah udah di bandara nggak tau mau dikirim ke kota mana... Antara Surabaya tau Malang deh waktu itu.
- Planning sama tim internal dan berlanjut bareng sama Account Executive dan klien
- Kolaborasi alias kerjasama dengan AE, designer, videographer dan sutradara juga.
- Main uno (ini kalau kerjaan sudah beres)
Notes untuk pembaca/konsumen/kawan-kawanku:
Media buying is real. Khususnya untuk ranah online dengan topik yang menyangkut kegiatan pemerintah, bisa diteliti dulu di pojok atas atar pojok bawahnya ada tulisan "advertorial" tau "adv". Bukan berarti isinya bohong sih, tapi itu kan konten berbayar jadi yang ditampilkan hanya satu sisi dan tentu saja yang bagus aja. Kalau mau memahami keseluruhannya, ya gabungkan juga dengan sumber lain yaa.
Ya begitulah kurang lebih cara aku dalam menafkahi diri di kehidupan yang fana ini (lebay).
Ngomong-ngomong, lihat salah satu anak yang kubuat di tahun ini dong di sini, asik loh dia interaktif gitu ;)
Ohiya, untuk yang sebelumnya kurang tahu tentang periklanan dan istilah-istilahnya, bisa dilihat nih video buatan teman-temanku yang jurusan perikalanan pas kuliah dulu. Bisa bikin ketawa juga sih.
- Anak Iklan The Movie
- Iklanpedia
- 3 Mitos Anak Iklan
Udah lama banget pengen menyelesaikan tulisan ini di blog, akhirnya siap juga, hahaha. Semoga bermanfaat, ya!
Nggak, deng! Nggak semuanya terlihat dari google. Itu hanyalah yang ada di permukaan saudara-saudara.
Tulisan ini untuk yang suka bertanya-tanya:
"Kerjaan lo apaan sih kok sering jalan-jalan?"
"Oh di (nama media) ya.. Wartawan ya?" <--- BUKAN
"Content marketing ngapain tuh?"
"Kok masuknya siang???" <--- yang nanya antara terlalu bersemangat dan protes.
Saya kerja di tim content marketing di sebuah online publishing/media online. Sebentar lagi akan bergeser ke grup agensi-medianya sih. Tim ini beserta deskripsi pekerjaannya udah masuk ranah periklanan. Tugasnya membuat konten-konten yang bisa menjual produk/jasa/kampanye brand atau klien dengan konsep soft-selling. Nah, konten itu bisa berupa artikel, video, infografis, atau multimedia konten di kanal premium. Lalu, bisa di publikasikan di media ini atau owned media si klien, dan bisa juga kalau big project di publikasikan di banyak media (biasanya sih video)
Job desknya agak berbeda dengan copywriting di media ini, di mana kami nggak terlalu "keras" menyodorkan audiens tentang harga produk atau merepetisi penyebutan produk.
Misalnya nih:
Klien: Produk breast pumping dari Brand A
Target market: New mom, millenial, SES A
Nah, yang akan kukerjakan adalah bagaimana membuat target market ini menyadari pentingnya si breast pumping Brand A tanpa harus bilang harga produk, atau produk ini paling bagus, terbaik, blablabla. Bahkan bisa juge tapa nyebutin produknya.
Selanjutnya, setelah dapat brief, di tahap awal akupun mikir, berkhayal, dan riset.
Serius.
Sesekali juga pakai wawancara. Tapi narasumbernya berdasarkan arahan klien ya, karena ini kan produk berbayar. Subjektif, tapi berdasarkan fakta juga gitu.
Jadi, akhirnya yang aku buat misalnya tentang pentingnya persiapan pada 1.000 hari pertama anak. Aku mulai dari jelasin perkembangan otak anak yang pesat di masa itu, apa aja yang si anak butuhkan, terus bagaimana persiapan ibu, bahas ASI, dan jengjengjengjeng aku ngaitin brand breast pumping-nya deh.
Contoh lainnya yang pernah aku buat dan aku suka banget adalah ngebahas Met Gala yang dikaitin dengan kampanye sosial sebuah e-commerce di bulan Ramadhan untuk ngajak penggunanya nyumbang pakaian yang tidak terpakai. Pokoknya bisa aja deh kusambungin storytellingnya, hehe.
Garis besarnya sih itu. Berikut kujabarin apa yang menarik dari pekerjaan yang udah ditekuni sejak lulus selama lebih dari satu tahun ini:
Yang aku suka:
- Terus berpikir kreatif.
Senang banget aku jadi harus bisa mikir terus, nyari ide, berimajinasi, dan bikin cerita yang tepat. I know one of my strength is in storytelling. Terlebih lagi, aku juga suka kalau bisa lebih banyak tahu masalah apa yang dimiliki target audience sehingga ideku bisa berpartisipasi menyelesaikan masalahnya itu.
- Semakin banyak tahu berbagai industri.
Bekerja di media yang besar membuat cukup banyak brand dari berbagai industri menjadi klien. Ada dari FMCG (Fast Moving Consumer Goods), Tekno (Smartphone, laptop, etc), Kesehatan (suplemen, vitamin, Rumah Sakit, etc), Home Appliances (lemari es, tv, etc), Otomotif (dari mobil sampai olinya), Pendidikan (universitas sampai lembaga penyedia beasiswa), Travel (Tourism borad negara lain), pemerintahan dan banyak lagi.
Karena konten yang kubuat perlu banyak riset, aku jadi bisa dig a little bit deeper tentang kandungan produk atau bagaimana industri itu bekerja.
Misalnya nih, aku jadi cukup ngerti sebegitu krusialnya perkembangan otak anak di 1.000 hari pertama kehidupannya. Aku jadi paham kenapa ada bayi yang nggak berhenti-berhenti makan, dan banyak orangtua yang anggap itu hal oke. Padahal itu karena ada saraf si bayi yang belum bisa aktif untuk merasakan kenyang. Akhirnya diasup terus makannya.
Kejadian nih, aku ngeliat sendiri di saudara yang udah punya anak. Anaknya lagi disuapin pisang dan sepupuku ini bilang kalau makannya sering nggak mau berhenti. Baru aku mau bilang terkait saraf itu, eh tau-tau.....anaknya muntah.
Tuh kan. Jadi si bayi ini belum bisa mendeteksi kadar kenyangnya dan orangtua yang harus bisa ngatur porsinya.
Mari lihat industri lain. Waktu brand-nya lemari es, aku jadi tahu tentang pentingnya kebersihan kulkas sama cara menyimpan makanan dengan tepat. Salah satunya ikan salmon.
Kadang sampai agak mabok rasanya karena yang kuserap dari beragam industri. But, all is well. Bisa dikatakan aku pun jadi makin generalis hahaha. Take a little bit of everything.
- Semakin tahu cara kerja periklanan dan bisnis.
Yang paling kuingat sih betapa besarnya biaya yang dikeluarkan untuk advertising dan marketing. Harga Rp 40 juta untuk pemotretan yang hasilnya akan dipajang itu biasa.
Setiap di Stasiunn Sudirman yang banyak reklame iklan, otakku jadi suka mikir "Wih bagus ya headlinenya", "Ini total foto sama editingnya berapa ya," atau saat lihat TVC dan video commercial di Youtube yang bagus ceritanya, shot gambarnya, dan editingnya, kadang suka otomatis berpikir "Ini pasti harganya di atas Rp 100 juta!"
Kalau kliennya pelit, mau murah dan cepat dengan hasil bagus (padahal feedback dari dianya lama), udah kelihatan deh hasil akhirnya kurang maksimal. Pernah kejadian.
- Ternyata masih bisa jalan-jalan
Kirain pindah dari ranah jurnalisme ke periklanan membuat diri ini akan jarang banget jalan-jalan. Eh ternyata nggak juga, deng! Kalau ada kebutuhan klien yang ada campaign di luar kota tau peluncuran produk, yaa aku atau teman yang di content marketing bisa dikirim, deh.
Nggak nyangka tahun ini bisa ke Sumbawa Barat dan Lombok karena urusan kerja. So happy~
Yang aku nggak suka
- Klien rese dan labil lah. Apalagi.
Ganti topik cerita masih nggak masalah, karena konten akhirnya kan belum jadi. Tapi, kalau dia minta ubah cerita padahal temanya udah dia sendiri yang pilih, kan berat di hayati :(
Ya jangan sampai aja ya kalau bentuknya video trus kliennya bilang "Itu wajah pemerannya bisa diedit nggak?"
*Mungkin bisa kalau pakai kun faya kun Allah SWT*
*padahal dia yang udah pilih aktornya*
Atau kejadian lainnya adalah, untuk artikel yang baru tayang sehari trus kliennya ngebet minta langsung 10 juta pageviews.
*EEEEE ini memang media gede tapi jangan seenaknya ya kamu, Ferguso!*
*Bosku bahkan sampan berkata kasar* hahaha
- Kalau kliennya dari pemerintahan.....
Jujur aku agak males. Kalau yang dijual campaign dari kebijakannya sih oke ya, tapi aku nggak suka kalau mesti ngolah rilis-nya gitu.... Karena untuk image banget dan hasilnya mirip "berita". Istilahnya semacam media buying, deh. Mungkin bawaan aku juga yang sebelumnya kuliah di Komunikasi dan peminatan jurnalisme. Tapi, apa boleh buat, namanya juga tugas ya jadi aku pernah ngerjain ini.
Trus aku jadi ngeliat nih bedanya klien commercial dan klien pemerintahan, Kalau klien commercial karena base-nya business, mereka lebih paham perlunya apa, mau ke siapa (target audience/target market) berjualannya, pesan jelas yang disampaikan apa. Tapi, kalau klien pemerintahan beberapa kali aku ngerasa kayaknya kurang nendang deh campaignnya kalau cuma andalin media ini. Kadang aku ngerasa pesan campaign alias "gerakan"nya itu terlalu banyak dan nggak mudah untuk dicerna dalam sekali lihat. Yang namanya pesan, apalagi untuk iklan, sebaiknya satu aja dan ringkas biar bisa fokus menyampaikannya. Selain itu, pernah juga punya target audiencenya yang kurang spesifik karena mengandalkan besarnya pengunjung media ini aja.
Yang paling menantang
Beragam topik, banyak industri, tenta sajaaaa ada topik yang cukup sulit buatku. Dulu, aku nggak banyak paham terkait kebutuhan ibu hamil dan consumer goods, tapi sekarang kalau ini udah cincay lah.
Ada dua nih yang masih agak sulit buatku. Dunia games dan industri alat kesehatan. Mungkin karena aku nggak suka games kali ya dan jarang banget liat updatenya. Solusinya sih selain banyak riset ya banyak nanya-nanya juga ke teman yang lebih ngerti. Nah, kalau di industri alat kesehatan, baru banget dapat kliennya beberapa minggu lalu. Wagelaseeeeh, dapet ilmu baru juga dan ternyata rumit banget sistem impor atau produksi alat-alat kesehatan di Indonesia.
Daily life
- Kerja di kantor
- Meeting di luar kantor
Pernah meeting di Starbucks Salah satu mall di Senayan. Nah, di mall itu ada TIGA Starbucks dan temenku salah ngasih tau terus Starbucks yang mana. Aku pun sampan pindah-pindah di antara tiga Starbucks itu -_-
- Mendadak ke luar kota
Bahkan aku pernah udah di bandara nggak tau mau dikirim ke kota mana... Antara Surabaya tau Malang deh waktu itu.
- Planning sama tim internal dan berlanjut bareng sama Account Executive dan klien
- Kolaborasi alias kerjasama dengan AE, designer, videographer dan sutradara juga.
- Main uno (ini kalau kerjaan sudah beres)
Notes untuk pembaca/konsumen/kawan-kawanku:
Media buying is real. Khususnya untuk ranah online dengan topik yang menyangkut kegiatan pemerintah, bisa diteliti dulu di pojok atas atar pojok bawahnya ada tulisan "advertorial" tau "adv". Bukan berarti isinya bohong sih, tapi itu kan konten berbayar jadi yang ditampilkan hanya satu sisi dan tentu saja yang bagus aja. Kalau mau memahami keseluruhannya, ya gabungkan juga dengan sumber lain yaa.
Ya begitulah kurang lebih cara aku dalam menafkahi diri di kehidupan yang fana ini (lebay).
Ngomong-ngomong, lihat salah satu anak yang kubuat di tahun ini dong di sini, asik loh dia interaktif gitu ;)
Ohiya, untuk yang sebelumnya kurang tahu tentang periklanan dan istilah-istilahnya, bisa dilihat nih video buatan teman-temanku yang jurusan perikalanan pas kuliah dulu. Bisa bikin ketawa juga sih.
- Anak Iklan The Movie
- Iklanpedia
- 3 Mitos Anak Iklan
Udah lama banget pengen menyelesaikan tulisan ini di blog, akhirnya siap juga, hahaha. Semoga bermanfaat, ya!
Sukak
ReplyDelete