Kenapa UGM harus khawatir namanya tercoreng?

Halo. Ini tulisan pertama saya di blog ini dengan label #Opini. Kali ini, saya mau bahas tentang victim blaming terkait kasus perkosaan yang dialami salah satu mahasiswa Universitas Gajah Mada saat KKN 2017. Sementara, kasus tersebut lama tuntasnya, dan dari yang saya amati di berita dan media sosial, "Agni" (nama samaran) tidak didampingi dengan baik.

Mungkin banyak yang sudah tahu kasus yang viral semingguan ini. Kronologi lengkapnya bisa dilihat di http://www.balairungpress.com/2018/11/nalar-pincang-ugm-atas-kasus-perkosaan/

Berdasarkan kronologi cerita, sudah jelas kalau pelaku HS bersalah, mendobrak consent Agni, dan sudah termasuk dalam ranah perkosaan.

Namun, yang disayangkan adalah bentuk hukuman yang kunjung tidak jelas bagi pelaku, dan korban yang sudah bersuara, tapi sebelumnya dihukum juga dengan dikasih nilai C untuk program KKNnya.

Lebih disayangkan lagi adalah saat saya membaca respon pejabat UGM.

"......Atas kejadian tersebut, pejabat tersebut menilai bahwa penyintas turut bersalah. Selain menilai bahwa Agni ikut berperan dalam terjadinya kejadian, ia juga menyayangkan Agni yang melibatkan pihak luar, yaitu Rifka Annisa. Menurutnya kasus Agni lebih baik diselesaikan secara baik-baik dan kekeluargaan, sehingga tidak mengakibatkan keributan. “Jangan menyebut dia (Agni) korban dulu. Ibarat kucing kalau diberi gereh (ikan asin dalam bahasa jawa) pasti kan setidak-tidaknya akan dicium-cium atau dimakan,” tuturnya menganalogikan...."

"........Menanggapi tuntutan Agni, Ambar justru membenarkan pemberian nilai C oleh DPL, setelah sebelumnya mengonfirmasi bahwa jarak pondokan HS tidak jauh dari pondokan Agni. “Kalau gitu, berarti Pak Adam tidak sepenuhnya bersalah. Seandainya kamu tidak menginap di sana kan tidak akan terjadi, tho?” begitu yang Agni ingat atas ucapan Ambar. Namun, setelah kami berusaha untuk meminta keterangan Ambar mengenai hal ini, ia menolak untuk diwawancara karena alasan kesibukan.............."

Wait, what?

Saya prihatin saat membaca respon seperti ini. Terlebih lagi, katanya pejabat tersebut perempuan. 

Kenapa memprihatinkan? 

Karena mindset victim blaming ini tertanam di otaknya. Sebagai pejabat kampus dan orang yang jauh lebih dewasa, seharusnya ia bisa berperan lebih untuk melindungi korban, mengkawal kasus, dan memberi sanksi pelaku.

Respon ini membuktikan kalau perilaku victim blaming masih tertanam pada sebagian orang, dan ini berbahaya. Menyalahkan korban berarti memberikan ketidak adilan pada korban yang terbungkam.

Terbungkam karena verbal harrasement saja tidak enak, apalagi karena perkosaan? Saya kagum sama Agni ini yang terus berusaha dan kuat sekali untuk prose advokasi kasusnya.

Agni adalah perempuan, bukan ikan asin bagi kucing-yang tidak punya akal laiknya manusia. Pelaku HS adalah manusia, yang harusnya berakal dan paham consent, dan tidak memperkosa perempuan. 

Semua orang yang tahu kasus ini, termasuk yang terlibat KKN dan pejabat UGM itu harusnya paham.


Perlu waktu satu tahun sampai akhirnya kasus ini viral. Dan nama kampus UGM pun jadi buruk karena tak tuntas menyelesaikan masalah ini.

Saya pun berandai-andai. What if...

UGM dengan cepat menyelesaikan kasus ini. Pejabat UGM paham kalau ini perkosaan dan pelaku harus langsung, secepatnya, diberi sanksi. Dengan begitu, UGM sebagai kampus terpelajar menunjukkan kalau tak ada toleransi terhadap tindakan asusila yang dilakukan pelaku HS.

Orang-orang bisa aja tahu kalau oknum adalah mahasiswa UGM, tapi selama UGM bisa mendampingi suara korban dan memberi sanksi ke pelaku HS, nama UGM ya tidak akan buruk.

Apalagi kalau pejabat UGM bisa dengan tegas bersuara kepada mahasiswanya terkait kasus tersebut. Apa yang tidak boleh, apa yang boleh. Apa tindak lanjutnya dan kepada siapa korban bisa segera melapor bila ada kasus serupa. 

Fungsi kampus yang sebagai tempat pendidikan, termasuk pendidikan dan kepedulian terkait consent dan sexual harrasement, juga bisa kan?

Contohnya, ada Sexual Harassement Guidelines selama proses produksi Wonder Woman 2 untuk production cast and crew-nya. Guideline ini dibuat karena mencuatnya kasus harrasement ke beberapa aktris oleh Harvey Weinstein itu, loh.

Lha, ini kebalik. Mahasiswanya yang lebih keras bersuara sampai jadi viral dulu. Setelah ini, seperti apa ya hasil akhir kasusnya. 

Menutup-nutupi masalah lah yang justru memperburuk nama kampus. 

Semoga UGM dan kampus lainnya yang punya oknum serupa bisa menangani kasusnya lebih baik lagi. Semoga HS dihukum (nggak usah diluluskan aja). Dan semoga Agni tabah atas masalah yang dialaminya dan balik menjalani hidupnya dengan tentram. Saya dan teman-teman lain yang concern sama masalah ini bersama kamu ya, Agni!

Comments

Popular posts from this blog

A Glimpse of My Occupation

I'm drowning