30 Hari Bercerita

Hari 1

Oke, saya akan paksa diri saya mengikuti tren #30HariBercerita yang ada di instagram, tapi nggak menulisnya di instagram. Semoga saya bisa menulis lagi, dengan tulus.

Dini hari di awal tahun, dan terlalu banyak yang berkecamuk di pikiran saya.

Dulu di blog lama, saya pernah nulis Memahami Cinta dan Hubungan ala Saya. Entah kerasukan apa waktu itu, tapi sepertinya saat itu sedang tengah malam dan saya menuangkan panjang-panjang hal yang saya nggak pahami itu.

Sampai sekarang pun, saya masih nggak paham. Karena sepertinya setiap orang mencintai dengan cara yang berbeda, dan setiap diri ini mengutamakan apa yang dicintainya secara berbeda dari orang lain.

Tapi, kategorinya masih sama. cinta ke Tuhan, cinta ke orangtua, cinta ke significant other, cinta ke keluarga/saudara, dan cinta ke masyarakat (sort of dalam bentuk pengabdian gitu deh).

Dan berdasarkan observasi saya, masih sama juga, kalau setiap manusia tanpa disadari bisa mengurutkan cinta yang mana yang jadi prioritas dalam hidupnya.

Saya masih ingat, beberapa tahun lalu, saya berdiskusi sama teman saya yang laki-laki.

"Kayaknya gue merasa not good enough to anyone deh."
"Gila kali, lo. Gue aja yang (tampangnya) begini dapet, zi. Apalagi elo yang cakep, baik dan pinter gini," -Iya temen saya yang ini udah menemukan the one-nya dia.
Well, my friend, yang cakep, baik dan pinter itu banyak.
"Gue nggak paham sih. Pertimbangannya apa coba sampai seseorang bisa stay sama seseorang. Gue nggak mengerti ketepatan ngukurnya dari mana, harus kayak apa, harus dari mana."

Waktu itu, saya kekeuh banget sama yang namanya "Social Exchange Theory". Mana ada lah orang yang mau merugi dalam bentuk apapun, termasuk di hubungan.

"Zi.... itu tuh hal yang nggak bisa terlalu dipikirin. Tapi, dipraktekkin. Dirasain langsung,"
"Hahaha iya sih dirasain, tapi harus ada pertimbangannya juga dong,"

Gitu akhir kata saya waktu itu. Ngetawain teman saya. Praktekkin gimana, rasain gimana, harus hati-hati kali biar nggak merugi.

Tapi, ternyata, bener kata temen saya. When you really fall, you just fall. Goodbye logic, goodbye rationality. Dirasain sendiri dan pertimbangan-pertimbangan complicated itu akan buyar.

Ujung-ujungnya, hidup kembali menunjukkan kejutannya. Dan semuanya menyadarkan saya lagi, kalau saya hanya manusia kecil, yang garis ceritanya terus harus berserah kepada semesta, termasuk dalam urusan cinta. (geli nggak)
Ini baru hari pertama 2019 (walau saya nulisnya di dini hari tanggal 2 Januari sih), tapi saya sudah cukup pusing.

Dan kemudian, tiba-tiba saya ingat kalimat ini.

We're fickle, stupid beings with poor memories and a great gift for self-destruction. Kata Plutarch Heavensbee di Trilogi Hunger Games.

Mungkin, setiap diri kita juga nggak boleh lupa cinta sama diri sendiri. I swear, it is so cliche listening about love yourself, tapi dari berbagai kategori mencintai itu, kita juga nggak bisa melewatkan mencintai diri sendiri dulu, sebelum mencintai lainnya.

Mungkin, semuanya akhirnya complicated karena saya belum punya standpoint yang kuat dalam mencintai diri sendiri. 

Mungkin semesta kesal dengan saya yang sering ragu, dan terjebak dalam "not good enough" atau terjebak dalam "saya harusnya bisa dapat yang seperti ini."

Sehingga semesta belum membiarkan saya jatuh dan ditangkap dengan tepat.

Comments

Popular posts from this blog

A Glimpse of My Occupation

I'm drowning