I Feel Glorious
Beberapa hari yang lalu, saya merasa nggak enak. Nggak enak pikiran yang membuat perasaan kosong dan kepala nggak enak. Padahal lagi di kantor. Tapi, untungnya saya masih bisa kerja dan ngobrol sama teman-teman lainnya. Semuanya kelihatan baik-baik saja, tapi entah kenapa dari dalam diri sendiri muncul perasaan nggak enak yang cukup parah dan ini udah lama nggak muncul.
Rencananya, sepulang kerja saya mau ke Kinokuniya biar bisa refreshing sekaligus nenangin diri dan identifikasi penyebab nggak enak itu. Eh tapi tau-tau temen saya ngajak nemenin makan di kantin. Mau makan capcay. Ya saya karena laper juga akhirnya mau nemenin. Batal deh ngademin diri ke Kinokuniya, gitu kata saya dalam hati.
Ternyata, makan dan ngobrol di kantin sama temen ini justru menyadarkan saya sama satu hal penting dan menambah pencerahan saya terhadap identifikasi kenapa ada numb feeling itu. Malam itu kayak jadi malem yang......waaaaahgelaseh.
Temen saya ini sebenarnya anak baru di kantor. Baru masuk hampir dua bulan dan usianya lebih tua lima tahun di atas saya. Sebagai teman baru dan rekan kerja, saya mulai cocok sih sama dia.
Saya sama dia pun ngobrol tentang kerjaan, ngobrol tentang rekan yang toxic, dan akhirnya karena nyaman ngobrolin hal-hal personal, termasuk karier, minat, passion dan relationship gitu. Dia lebih dewasa dari saya sih dan jadinya dia banyak ngetawain saya yang terlalu pemikir. Tapi, dia bilang bagus kalau saya udah sadar, merasa nggak enak, dan mengalami hal-hal yang bikin down diumur semuda ini. Katanya, dia aja sejauh ini mengalami titik terendahnya dan baru sadar waktu umur 26 tahun gara-gara udah enam tahun pacaran dan putus. Hadeu.
Terkait karier dan profesi gitu, lagi-lagi saya diingatkan agar don't be so hard on yourself. Dinikmati aja dan dicoba apa yang menarik sesuai hati nurani. Iya sih, bener. Saya memang selalu ngikutin arah hati saya walau point-nya masih jangka pendek-menengah aja. Gak apa-apa, kata dia juga nggak apa-apa. Yang penting masih ada keinginan untuk discover diri sendiri dan terus mencoba. Katanya lagi, sekarang dia merasa udah di titik udah nggak perlu apa-apa lagi. Tiap hari cukup bilang makasih dan bersyukur aja, tapi tau-tau hal-hal positif yang nggak disangka terjadi sama dia.
Bahas relationship gak yaaaa? Intinya sih kalau bahasan itu saya nggak usah terlalu mikirinnya umur segini. Ahaha iye iyeee. Serious commitment is not my thing and it's not even happening to me right now.
Setelah banyak obrolan itu, dia ngingetin kalau kita nggak punya apa-apa di dunia ini. Nggak ada milik kita 100%. Apa yang ada dinikmati, dipelajari, kalau salah ya ambil pelajarannya. Saya pun nanya-nanya hal personal tentang dia dan opini dia tentang berbagai hal lainnya dari diri dia yang lawan jenis dan lebih dewasa dari saya. Wah broo, thank you so much sharing pengalamannya.
Intinya, saya jadi teringat lagi tentang how I need to stand on my own. Saya harus bisa solid berdiri sendiri dan merasa cukup dengan diri sendiri. I have to stand on my own! Karena yang bisa ngatur pikiran saya ya diri saya sendiri. Tidak boleh kalah karena diri sendiri. All I have is myself! Pokoknya teman saya bahas ini dan ngingetin lagi, jangan bergantung sama orang, fokus sama diri sendiri. Iya sih betul sekali. Saya kan emang sendiri dan nggak bisa, nggak boleh bergantung sama siapa-siapa.
Habis itu, saya jadi ngerasa kalau hal-hal yang terjadi beberapa bulan terakhir ini-dan setahun sampai dua tahun terakhir juga kali ya-semuanya berada di titik yang ceritanya jadi masuk akal. I'm connecting the dots and it makes sense. Apa yang disuka, apa yang nggak disuka, apa yang benar, apa yang terjadi, apa yang terlanjur terjadi, apa yang salah, dan apa yang dipelajari.
I'm changing. I'm evolving. I look at my face and my eyes in the mirror, it's not the same like I was before.
Mungkin ya memang masih akan ada struggle ke depannya. Tapi, nggak apa-apa. Saya sudah semakin sering terbiasa dengan persiapan "What the worst could happen?", "Apa konsekuensinya?", dan sekarang nambah lagi biar jadi pengingat "I still can stand on my own if I do this and that, right?". I should not forget to put myself first, so I can stand on my own, secara solid.
Setelah itu, saya merasa cukup puas dan senang. Tiba-tiba keingat lagu Glorious, soundtracknya Crazy Rich Asians.
Lagunya kayak lagi sesuai sama keadaan sekarang. Dan yang di atas adalah bagian favorit saya.
I've made it through the darkest part before! As I laugh today for my mistakes when I was 18 years old, and on the next five years I probably will laugh at my mistakes on this day, hahaha. Lyfeee.
I should be proud! I should be a complete-solid individual!
Rencananya, sepulang kerja saya mau ke Kinokuniya biar bisa refreshing sekaligus nenangin diri dan identifikasi penyebab nggak enak itu. Eh tapi tau-tau temen saya ngajak nemenin makan di kantin. Mau makan capcay. Ya saya karena laper juga akhirnya mau nemenin. Batal deh ngademin diri ke Kinokuniya, gitu kata saya dalam hati.
Ternyata, makan dan ngobrol di kantin sama temen ini justru menyadarkan saya sama satu hal penting dan menambah pencerahan saya terhadap identifikasi kenapa ada numb feeling itu. Malam itu kayak jadi malem yang......waaaaahgelaseh.
Temen saya ini sebenarnya anak baru di kantor. Baru masuk hampir dua bulan dan usianya lebih tua lima tahun di atas saya. Sebagai teman baru dan rekan kerja, saya mulai cocok sih sama dia.
Saya sama dia pun ngobrol tentang kerjaan, ngobrol tentang rekan yang toxic, dan akhirnya karena nyaman ngobrolin hal-hal personal, termasuk karier, minat, passion dan relationship gitu. Dia lebih dewasa dari saya sih dan jadinya dia banyak ngetawain saya yang terlalu pemikir. Tapi, dia bilang bagus kalau saya udah sadar, merasa nggak enak, dan mengalami hal-hal yang bikin down diumur semuda ini. Katanya, dia aja sejauh ini mengalami titik terendahnya dan baru sadar waktu umur 26 tahun gara-gara udah enam tahun pacaran dan putus. Hadeu.
Terkait karier dan profesi gitu, lagi-lagi saya diingatkan agar don't be so hard on yourself. Dinikmati aja dan dicoba apa yang menarik sesuai hati nurani. Iya sih, bener. Saya memang selalu ngikutin arah hati saya walau point-nya masih jangka pendek-menengah aja. Gak apa-apa, kata dia juga nggak apa-apa. Yang penting masih ada keinginan untuk discover diri sendiri dan terus mencoba. Katanya lagi, sekarang dia merasa udah di titik udah nggak perlu apa-apa lagi. Tiap hari cukup bilang makasih dan bersyukur aja, tapi tau-tau hal-hal positif yang nggak disangka terjadi sama dia.
Bahas relationship gak yaaaa? Intinya sih kalau bahasan itu saya nggak usah terlalu mikirinnya umur segini. Ahaha iye iyeee. Serious commitment is not my thing and it's not even happening to me right now.
Setelah banyak obrolan itu, dia ngingetin kalau kita nggak punya apa-apa di dunia ini. Nggak ada milik kita 100%. Apa yang ada dinikmati, dipelajari, kalau salah ya ambil pelajarannya. Saya pun nanya-nanya hal personal tentang dia dan opini dia tentang berbagai hal lainnya dari diri dia yang lawan jenis dan lebih dewasa dari saya. Wah broo, thank you so much sharing pengalamannya.
Intinya, saya jadi teringat lagi tentang how I need to stand on my own. Saya harus bisa solid berdiri sendiri dan merasa cukup dengan diri sendiri. I have to stand on my own! Karena yang bisa ngatur pikiran saya ya diri saya sendiri. Tidak boleh kalah karena diri sendiri. All I have is myself! Pokoknya teman saya bahas ini dan ngingetin lagi, jangan bergantung sama orang, fokus sama diri sendiri. Iya sih betul sekali. Saya kan emang sendiri dan nggak bisa, nggak boleh bergantung sama siapa-siapa.
Habis itu, saya jadi ngerasa kalau hal-hal yang terjadi beberapa bulan terakhir ini-dan setahun sampai dua tahun terakhir juga kali ya-semuanya berada di titik yang ceritanya jadi masuk akal. I'm connecting the dots and it makes sense. Apa yang disuka, apa yang nggak disuka, apa yang benar, apa yang terjadi, apa yang terlanjur terjadi, apa yang salah, dan apa yang dipelajari.
I'm changing. I'm evolving. I look at my face and my eyes in the mirror, it's not the same like I was before.
Mungkin ya memang masih akan ada struggle ke depannya. Tapi, nggak apa-apa. Saya sudah semakin sering terbiasa dengan persiapan "What the worst could happen?", "Apa konsekuensinya?", dan sekarang nambah lagi biar jadi pengingat "I still can stand on my own if I do this and that, right?". I should not forget to put myself first, so I can stand on my own, secara solid.
Setelah itu, saya merasa cukup puas dan senang. Tiba-tiba keingat lagu Glorious, soundtracknya Crazy Rich Asians.
Got a chance to start again
I was born for this, born for this
Lagunya kayak lagi sesuai sama keadaan sekarang. Dan yang di atas adalah bagian favorit saya.
I've made it through the darkest part before! As I laugh today for my mistakes when I was 18 years old, and on the next five years I probably will laugh at my mistakes on this day, hahaha. Lyfeee.
I should be proud! I should be a complete-solid individual!
Comments
Post a Comment