Positivity Musim Hujan

Katanya hujan membawa rezeki. Namun, rasanya tidak bagi orang yang hendak melangkahkan kaki masuk kereta, tapi kedua pintunya terlanjur tertutup. Pukul enam, hujan cukup deras, dan ada yang terlambat sepersekian detik naik kereta arah Tanah Abang yang datangnya tak sesering kereta jalur Jakarta Kota.

Pagi ini, banyak motor di depan stasiun berkerumun. Terlihat penumpang-penumpang yang turun dari ojol, melepas jas hujan plastik, dan segera berlari ke arah stasiun. Bunyi dari palang pintu kereta pun cukup bikin deg-deg-an bagi mereka yang masih berjalan, belum mencapai gerbang stasiun. 

Sementara itu, seorang ibu berpakaian batik yang tadinya berjalan cepat, harus agak berlari-lari sambil memegang payung berlogo salah satu BUMN perusahaan minyak (kebanggaan Indonesia). "Duh, kereta saya bukan ya," mungkin itu dalam hatinya. Ibu itu pun menyebrang ke stasiun mendahului saya.

Sebelum naik dua anak tangga di pagar stasiun, cipratan akibat becekan kecil datang dari langkah kaki bersepatu pantofel hitam yang dikenakan seorang bapak berseragam coklat PNS. Tak perlu dihiraukan. Untung hari ini saya mengenakan ankle boots kulit. Sepatu hitam kesukaan yang jarang digunakan. 

Nggak mungkin kan, pakai boots di Jakarta saat panas. Gerah, lebih nyaman sneakers atau ankle strap sandals, yang bagian depannya terbuka. Tapi, kalau musim hujan begini, nggak mau deh pakai ankle strap sandals cokelat susu milo berbahan suede itu. Waktu kena cipratan, bisa-bisa becekannya masuk ke jari-jari kaki yang terbuka. Repot kalau harus membersihkan pakai tisu. Belum lagi kalau becekannya kotor, nanti lebih susah hilang nodanya.

Walau ankle boots yang saat dipakai ini belinya sudah dua tahun lalu di Sogo salah satu mal, rasanya masih muat, dengan tampilan kulitnya yang mulus. Ya, tak mungkin nggak muat juga sih, karena pertumbuhan fisik diri kan tidak akan bertambah lagi kalau sudah di atas 21 tahun.

Sembilan belas, dua puluh, dua puluh satu,...itu hitungan saya yang berdiri di belakang pegawai berbaju PNS tadi dalam antrian tapping tiket kereta. 

Kalau sirene palang pembatas rel kereta berbunyi, lalu kereta sudah memasuki stasiun, agaknya yang tiba di stasiun pun tidak bisa berharap besar akan segera naik kereta. Lihat saja, ada antrian tapping dulu yang harus dihadapi.

Antrian pagi mengular seperti biasa. Saya selempangkan tali tas yang tergantung dari bahu kanan ke bahu kiri biar lebih mudah buka resleting tas. Mau mengambil kartu multitrip commuter line, tapi yang terambil malah kartu akses apartemen. Merogoh-rogoh tas lagi, baru ketemu lanyard yang ujungnya KMT dan kartu identitas karyawan. Maju, maju dan akhirnya giliran tapping akan tiba setelah tiga orang lagi.

--------

Gotta love that NYC subway sardine feeling. Begitu komentar @archiecomics di salah satu postingan instagram Lili Reinhart. Tepatnya, di foto Lili Reinhart bersama aktor Riverdale lain, Madelaine Pesch dan Casey Scott waktu mereka di subway New York-yang kelihatannya lagi penuh. 

Commuter line pagi yang padat membuat saya teringat sama komentar @archiecomics itu. Sardines feeling atau idiom sarden. Kalau terms in Indonesian-nya sih 'pepes' ya. Pepes-pepesan di rush hour kereta. Kalau pagi, orang-orang di dalamnya masih wangi. Namun, kalau rush hour pulang kantor sore sampai malam, hmmmm, aromanya tidak usah dijelaskan lagi. 

Agar tetap wangi saya pun bawa parfum di dalam tas. Bahkan dua parfum! Seperti Priyanka Chopra. Di salah satu pertanyaan dalam Vogue 73 question with Priyanka Chopra dia tunjukkan barang-barang apa saja dalam tasnya. Ternyata dia selalu bawa dua parfum karena senang mencampurkan dua wewangian. Saya coba juga, dan ternyata benar sih.

Anker alias Anak Kereta dan perempuan seperti saya biasanya sudah tahu posisi aman dan enak untuk berdiri. Sebagai perempuan umur 20-an awal, jangan berharap banyak bisa duduk saat rush hour kereta, baik ketika di gerbong perempuan atau yang campuran. Berdiri dekat pintu kereta, tepatnya di samping tempat duduk adalah posisi yang pas. Dan nggak perlu memegang tiang kursi lagi. Kalau ada serbuan orang yang masuk, posisi berdiri dan bersandar ini tak akan membuat diri goyah. Pojokan kecil yang aman. Sementara, kalau berdiri di tengah lorong atau di depan orang duduk masih ada kemungkinan terdorong-dorong. Belum lagi, setidaknya harus menggenggam pegangan dengan erat biar tak terjatuh. Jadinya, nggak bisa baca novel atau pegang smartphone, dong. 

Karena di luar tadinya hujan, payung bening masih saya genggam, tidak mau ditaruh di tempat barang di atas kursi kereta. Takut lupa. 

Melihat kondisi di luar dari jendela, sepertinya hujan tak akan segera berhenti. Bahkan belum menjadi rintik-rintik kecil.

-------

Lega adalah perasaan terlepas dari sebuah beban. Lega berarti pula saat sudah menyelesaikan kerjaan tepat sebelum deadline. Lega bisa juga kondisi setelah mengungangkapkan sesuatu yang tertahan selama seminggu, sebulan, atau hampir setahun kepada seseorang. 

Lega juga dapat diartikan sebagai perasaan bebas dari tubrukan antar manusia di Stasiun Sudirman pagi hari. Semakin lega ketika sudah di luar atap stasiun dan lebih nyaman bernafas, tak rebutan menghirup oksigen. Cepat-cepat saya buka kembali payung plastik bening, lalu lanjut berjalan menuju kantor. 

Berapa orang ya yang suka hujan di hari kerja? Kalau di rumah atau di kubikel meja kantor, rasanya lebih enak melihat jendela yang dibasahi hujan sambil makan Indomie rebus rasa Kari Ayam. 

Cuaca dingin rasanya membuat diri ingin dipeluk, tapi yang bisa dipeluk cuma agama. Begitu sih kata sebuah tweet yang pernah saya lihat di timeline Twitter. Entah kenapa tiba-tiba teringat.

Saat berjalan waktu hujan begini, saya jadi bisa pakai transparent umbrella. Seperti yang ada di drama Korea itu, lho. Kalau nggak salah drama Korea terakhir yang saya lihat dan ada payung beningnya adalah While You Were Sleeping. Pemeran utamanya Bae Suzy dan Lee Jong Suk. 

Payung bening itu spesial karena cuma bisa dipakai saat hujan. Di hari panas, tak mungkin melindungi diri dari sinar matahari dengan payung ini. Ketika menatap dari bawah payung, rintikan-rintikan bulat kecil air hujan juga bisa terlihat. Pokoknya, payung transparan ini keren.

Usai melewati jalan di belakang Stasiun Sudirman, saya belok kiri sambil melanjutkan kembali memikirkan checklist yang saya suka di hari hujan. Ankle boots, checked. Payung bening, checked

Kemudian, saya berhenti sebentar, mengecek parka panjang warna salmon pink yang saya kenakan. Lengannya tergulung tiga perempat dengan strap yang masih terpasang di kancing dekat siku. Saya pindahkan payung ke tangan kiri, dan mengecek tali parka di punggung masih terikat atau tidak. Masih. Selanjutnya, saya rapatkan kancing parka ke-empat dari atas. Jadinya tidak terlalu dingin dan blouse hitam saya pun tak begitu terlihat lagi. Kerudung pun sudah masuk di dalam parka.

Satu hal lagi yang menyenangkan dari musim hujan adalah waktunya memakai outerwear. Alasan praktisnya memang supaya tidak kedinginan baik di luar ruangan maupun di dalam ruangan. Entah kenapa AC kantor sering berulah, semakin dingin suhunya kalau hujan tiba hingga membuat tangan beku saat mengetik.

Alasan lainnya adalah kapan lagi bisa menjadwalkan diri pakai outer lucu dan keren! Parka pink salmon yang panjangnya hampir selutut ini sudah lama ingin saya kenakan. Ditambah lagi ada pin-pin aluminum warna-warni yang sudah tersemat langsung. Ada yang bentuk lemon, tomat, dan semangka. Warna-warna yang kontras dengan mendungnya langit pagi.

Dari kemarin, saya sudah berencana memakai parka ini di hari Senin. Tak hanya Senin, kalau melihat weather forecast di hp, beberapa hari ke depan juga masih hujan. Jadi, saya buat jadwal outerwear yang akan dipakai. 

Selasa besok saya mau pakai poncho bermotif stripes, garis-garis hitam dan putih. Bukan garis-garis seperti zebra. Biar lebih lucu, ingin pakai beanie juga, tapi sepertinya berlebihan dan akan ribet, kan saya sudan pakai kerudung. Lanjut, hari Rabunya saya akan pilih mengenakan sweater Ines De La Frassange rajutan putih yang ada garis merah-kuning-hijau-biru-hitam di lingkaran dadanya. Ukurannya pas di badan walau lengannya longgar dan agak menjuntai melebihi panjang tangan. Bisa diatur. 

Kamisnya, pakai cape abu-abu dengan jumpsuit merah marun. Untuk hari Jumat, masih pertimbangkan antara pakai motorcycle jacket kulit hitam-pasti oke juga kalau pakai lip matte red velvet yang baru dibeli Sabtu lalu- atau bomber jacket warna hijau lumut. Eh atau jaket jeans aja, ya? Yasudah, hari Kamis dipikirkan lagi.

Beberapa langkah lagi dan lobi kantor terlihat. Pintu kaca gelapnya memantulkan bayangan orang yang berlalu lalang. Sampai lobi, payung 'drama Korea'  ini pun dilipat. Kemudian, saya berhenti, berkaca sebentar melihat pantulan sendiri dari atas sampai bawah. Walau tidak ada yang sempurna, tapi penampilan pagi ini rasanya cukup sempurna. Hujan justru bukan menjadi halangan untuk well-dressed

Pintu kaca pun bergeser terbuka.

Selamat hari Senin! ucap saya dalam hati, sambil melanjutkan langkah menuju lift.

Comments

Popular posts from this blog

A Glimpse of My Occupation

I'm drowning