Old Post

Yang paling menyiksa adalah keterbatasan dalam menceritakan perasaan buruk ke orang. Berbagi perasaan, informasi personal, dan mimpi buruk sebenarnya penting. Tapi, ketika punya keterbatasan dan mulut tidak bisa berbicara dalam berbagi semua itu, harus bagaimana? Ke siapa? Ke yang paling dekat tidak bisa, ke yang dekat tapi berjarak tidak bisa memberikan solusi, ke yang tidak begitu dekat takut dikhianati. Bisa-bisa tenggelam dalam kesendirian. Tanpa ada yang tahu.
Kalau ke Tuhan? Itu sudah pasti. Namun, perantara seseorang juga dibutuhkan kan. Sentuhan. Tatapan. Pendengaran. Bagaimanapun ia hanyalah manusia biasa yang penuh emosi.
Tidak tahan. Tidak bisa tumpah. Mungkin suatu saat akan meledak. Berapa lama siksaan itu berlangsung? 
Saat sedang belajar mencintai diri sendiri tapi orang terdekat dan sistem mengkoordinasikan bahwa diri dia tidak tepat, itu juga menyiksa. Bisa saja lari ke fantasi dan imajinasi, tapi hidup tidak akan pernah berjalan dalam khayalan dan tiang kata-kata. Ada sistem yang berkontradiksi, baik kontradiksi dalam hidup itu sendiri atau kontradiksi antara bingkai hidup dan bingkai imajinasi yang sesuai.
Sesuai, bukan sempurna. Cukup, bukan berlebihan.
Ada keterbatasan setiap orang dalam menggunakan kalimat “Hadapi kehidupan”. Walau sulit, sepertinya cara mendobrak keterbatasan itu harus ditelusuri. Bawaannya ingin belajar dari orang lain. Tapi siapa?


Written on tumblr, Sept 19th 2017
- cry your heart out, darling.

Comments

Popular posts from this blog

A Glimpse of My Occupation

I'm drowning